Penghijauan merupakan suatu keharusan yang tidak bisa
ditunda lagi,karena lingkungan alam sudah banyak terusik oleh kerakusan
manusia.Bahkan berbagai kerusakan manajemen alam tersebut telah
menyebabkan terjadinya berbagai bencana ,seperti longsor,kemarau ,banjir
dan sebagainya.Memang baik kerusakan didarat dan di laut merupakan
akibat tangan-tangan manusia yang lebih mementingkan dirinya
sendiri,sehingga mengabaikan kehidupan makhluq lainnya.
Biasanya manusia itu baru menyadari kesalahannya setelah bencana datang,walaupun seringkali juga masih setengah hati dalam mengatasinya sambil mencari”kambing hitam”sebagai sasaran tembak terhadap kekeliruan yang dilakukannya.Bagi negara-negara maju yang menjadi pelopor rusaknya lingkungan hidup masih juga enggan mengurangi emisi dampak pemanasan global akibat berkurangnya hutan sebagai paru-paru dunia,dengan dalih akan merugikan perekonomiannya.
Selanjutnya mereka mengajak negara-negara berkembang supaya menjaga lingkungan alamnya,untuk bisa mengurangi emisi dampak pemanasan global tersebut.Dan untuk itu negera-negara kelompok 8 bersedia memberi insentif bagi negara-negara dunia ketiga yang melestarikan lingkungan hidup,dengan berupaya maksimal untuk mengkampanyekan penghijauan(reboisasi)terhadap lahan-lahan kritis bersamaan mencegah penebangan hutan secara sembarangan.
Dalam konteks ini pula Indonesia yang merupakan salah satu negara yang masih memiliki hutan seluas 138 juta hektar,dengan perincian 64 juta hektarnya luasnya merupakan hutan primer termasuk hutan konservasi di dalamnya seluas 20 juta hektar.Menurut data-data dari Departemen Kelautan dan Perikanan,bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang mampu mengurangi dampak rumah kaca ,sebagai berikut:
1.ekosistem terumbu karang seluas 61 ribu kilometer persegi bisa menyerap 73,5 juta ton karbon pertahunnya.
2.rumput laut seluas 30 ribu kilometer persegi bisa menyerap 56,3 juta ton karbon pertahunnya.
3.hutan bakau seluas 93 ribu kilometer persegi bisa menyerap 75,4 juta ton karbon pertahunnya.
4.laut terbuka Indonesia seluas 5,8 juta kilometer persegi bisa menyerap 40,4 juta ton karbon pertahunnya.
5.lumut dalam proses fotosentesisnya bisa juga menyerap karbon sekitar 245,6 juta ton pertahunnya.
Oleh karenan itu penghijauan sanagat menentukan dalam proses mengurangi efek rumah kaca yang bisa mengusik iklim secara keseluruhan,yang bisa menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan.Karenanya pada tahun 1992 diadakan perjanjian di Rio De Janeiro,Brasil .Perjanjian untuk menata kembali lingkungan hidup tersebut,di hadiri oleh 150 negara.Perjanjian yang disebut”Earth Summit”berisi antara lain adalah:perusahaan yang berskala internasional di haruskan menjadi pelaku utama pengurangan efek gas rumah kaca.Perjanjian tersebut masih diabaikan oleh negera-negara indstri maju,termasuk AS dan sekutunya dan Jepang.
Selanjutnya pada tahun 1997 diadakan lagi perjanjian serupa di Kyota,Jepang.Perjanjian ini dihadiri oleh 160 negara,yang sampai sekarangpun hasilnya belum sepenuhnya direalisasikan secara kongkrit terutama oleh AS dan sekutunya,dengan berbagai alasan yang sengaja di cari-cari.Protokol Kyoto diharapkan pada tahun 2012 pengurangan gas rumah kaca bisa dilakukan ,meskipun sejak tahun 1990 diharuskan 5 persen.Sedangkan Eropa bersedia mengurangi efek gas rumah kaca 8 persen,Jepang 6 persen dan 122 negara berkembang tidak di haruskannya.
Sementara AS pada tahun 2001,Presiden George Bush mengabaikan komitmen protokol Kyoto ,karena merugikan perekonomiannya.Baru dalam perjanjian Bali(Mandat Bali 3-11 Desember 2007),baik AS dan Jepang menyetujui “Draf Bali Road Map” yang berisi,antaranya sebagai berikut:
1.mereduksi emisi gas sesuai target 2050
2.yang mengarah keperjanjian global
3.Negara-negara tropis penghasil hutan terbesar akanmendapat insentif.
Untuk mengatasi masalah tersebut,maka pemerintah Indonesia perlu memantau ,serta menindak tegas terhadap para perambah hutan dan lautan sesuai dengan hukum yang berlaku.Soalnya UNEP(United Nations Environment Programme)selalu mengawasi proses penghijauan disetiap negara,dan untuk mengatasi hal itu membutuhkan dana yang sangat tinggi sekitar 200 milyar dolar AS pertahunnya.
Untuk menunda kiamat kelihatannya bisa dilakukan oleh manusia,karena Allah tidak akan mengubah kondisi sesuatu umat kecuali umat tersebut berupaya merubahnya.Salah satunya adalah dengan menjaga keseimbangan lingkungan alam ,sehingga jaringan struktur manajemen alam yang sudah tertata sesuai kadar ukurannya masing-masing tersebut tidak terusik,serta tidak rusak oleh kerakusan manusia.
Biasanya manusia itu baru menyadari kesalahannya setelah bencana datang,walaupun seringkali juga masih setengah hati dalam mengatasinya sambil mencari”kambing hitam”sebagai sasaran tembak terhadap kekeliruan yang dilakukannya.Bagi negara-negara maju yang menjadi pelopor rusaknya lingkungan hidup masih juga enggan mengurangi emisi dampak pemanasan global akibat berkurangnya hutan sebagai paru-paru dunia,dengan dalih akan merugikan perekonomiannya.
Selanjutnya mereka mengajak negara-negara berkembang supaya menjaga lingkungan alamnya,untuk bisa mengurangi emisi dampak pemanasan global tersebut.Dan untuk itu negera-negara kelompok 8 bersedia memberi insentif bagi negara-negara dunia ketiga yang melestarikan lingkungan hidup,dengan berupaya maksimal untuk mengkampanyekan penghijauan(reboisasi)terhadap lahan-lahan kritis bersamaan mencegah penebangan hutan secara sembarangan.
Dalam konteks ini pula Indonesia yang merupakan salah satu negara yang masih memiliki hutan seluas 138 juta hektar,dengan perincian 64 juta hektarnya luasnya merupakan hutan primer termasuk hutan konservasi di dalamnya seluas 20 juta hektar.Menurut data-data dari Departemen Kelautan dan Perikanan,bahwa Indonesia memiliki ekosistem yang mampu mengurangi dampak rumah kaca ,sebagai berikut:
1.ekosistem terumbu karang seluas 61 ribu kilometer persegi bisa menyerap 73,5 juta ton karbon pertahunnya.
2.rumput laut seluas 30 ribu kilometer persegi bisa menyerap 56,3 juta ton karbon pertahunnya.
3.hutan bakau seluas 93 ribu kilometer persegi bisa menyerap 75,4 juta ton karbon pertahunnya.
4.laut terbuka Indonesia seluas 5,8 juta kilometer persegi bisa menyerap 40,4 juta ton karbon pertahunnya.
5.lumut dalam proses fotosentesisnya bisa juga menyerap karbon sekitar 245,6 juta ton pertahunnya.
Oleh karenan itu penghijauan sanagat menentukan dalam proses mengurangi efek rumah kaca yang bisa mengusik iklim secara keseluruhan,yang bisa menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan.Karenanya pada tahun 1992 diadakan perjanjian di Rio De Janeiro,Brasil .Perjanjian untuk menata kembali lingkungan hidup tersebut,di hadiri oleh 150 negara.Perjanjian yang disebut”Earth Summit”berisi antara lain adalah:perusahaan yang berskala internasional di haruskan menjadi pelaku utama pengurangan efek gas rumah kaca.Perjanjian tersebut masih diabaikan oleh negera-negara indstri maju,termasuk AS dan sekutunya dan Jepang.
Selanjutnya pada tahun 1997 diadakan lagi perjanjian serupa di Kyota,Jepang.Perjanjian ini dihadiri oleh 160 negara,yang sampai sekarangpun hasilnya belum sepenuhnya direalisasikan secara kongkrit terutama oleh AS dan sekutunya,dengan berbagai alasan yang sengaja di cari-cari.Protokol Kyoto diharapkan pada tahun 2012 pengurangan gas rumah kaca bisa dilakukan ,meskipun sejak tahun 1990 diharuskan 5 persen.Sedangkan Eropa bersedia mengurangi efek gas rumah kaca 8 persen,Jepang 6 persen dan 122 negara berkembang tidak di haruskannya.
Sementara AS pada tahun 2001,Presiden George Bush mengabaikan komitmen protokol Kyoto ,karena merugikan perekonomiannya.Baru dalam perjanjian Bali(Mandat Bali 3-11 Desember 2007),baik AS dan Jepang menyetujui “Draf Bali Road Map” yang berisi,antaranya sebagai berikut:
1.mereduksi emisi gas sesuai target 2050
2.yang mengarah keperjanjian global
3.Negara-negara tropis penghasil hutan terbesar akanmendapat insentif.
Untuk mengatasi masalah tersebut,maka pemerintah Indonesia perlu memantau ,serta menindak tegas terhadap para perambah hutan dan lautan sesuai dengan hukum yang berlaku.Soalnya UNEP(United Nations Environment Programme)selalu mengawasi proses penghijauan disetiap negara,dan untuk mengatasi hal itu membutuhkan dana yang sangat tinggi sekitar 200 milyar dolar AS pertahunnya.
Untuk menunda kiamat kelihatannya bisa dilakukan oleh manusia,karena Allah tidak akan mengubah kondisi sesuatu umat kecuali umat tersebut berupaya merubahnya.Salah satunya adalah dengan menjaga keseimbangan lingkungan alam ,sehingga jaringan struktur manajemen alam yang sudah tertata sesuai kadar ukurannya masing-masing tersebut tidak terusik,serta tidak rusak oleh kerakusan manusia.


0 komentar:
Posting Komentar